Arsip Tag: ilmu parenting

Tips Mengajari Anak untuk Berhitung Cepat dan Efektif

Tips Mengajari Anak untuk Berhitung Cepat dan Efektif – Anak sudah boleh di ajarkan berhitung mulai usia 2-3 tahun. Agar prosesnya tidak memberatkan, cari tahu cara mengajar anak berhitung yang efektif dan menyenangkan. Belajar berhitung membantu anak mengembangkan logika, memahami jumlah dan urutan, melatih fokus dan memecahkan masalah. Keterampilan ini menjadi pondasi penting untuk belajar matematika dan sains yang akan meningkatkan kepercayaan diri anak dalam menghadapi tantangan belajar. Belajar berhitung juga membantu anak lebih mudah beradaptasi di kehidupan sehari-hari dan memahami lingkungan sekitarnya dengan lebih baik. Misalnya memperkirakan harga barang, waktu dan jarak tempuh.

1. Berhitung Pakai Jari Tangan

Untuk mengajari berhitung, kamu bisa mulai dengan mengajak si kecil atau buah hati menghitung usia menggunakan jari tangan. Bisa usianya sendiri, adik dan kakak. Misalnya usia anakĀ  4 tahun, maka minta si Kecil angka jarinya berurutan 4 kali sambil mengucapkan satu, dua, tiga, empat. Lalu coba minta kakak atau temannya yang lebih besar untuk menghitung dengan cara yang sama untuk membantunya memahami konsep angka lebih kecil dan lebih besar.

2. Bermain Peran

Anak usia 2-3 tahun sudah bisa di ajak bermain peran. Kamu bisa memanfaatkan aktivitas ini untuk mengajari anak berhitung dengan sangat menyenangkan. Contohnya saat bermain perang sebagao kasir dan pembeli di supermarket. Kamu bisa gunakan berbagai properti menarik yang bisa di hitung seperti uang mainan dan rak isi barang belanjaan. Saat si kecil berperan sebagai kasir, minta ia menghitung jumlah belanjaan. Lalu minta ia memastikan apakah jumlah uang yang di berikan sudah sesuai.

3. Belajar Berhitung dengan Lagu

Cara mengajari anak berhitung selanjutnya adalah dengan menggunakan lagu yang liriknya mengandung angka sederhana. Misalnya lagu “Satu-satu aku sayang Ibu” sambil memeragakan angka menggunakan jari dan menunjuk anggota keluarga yang di maksud dalam lirik lagu tersebut. Selanjutnya coba lagu seperti “Dua Mata Saya” sambil memegang bagian tubuh yang di maksud dalam lirik lagu.

Baca Juga : Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

4. Menghitung Jumlah Mainan

Manfaatkan mainan si kecil di rumah untuk menciptakan banyak momen belajar berhitung dengan cara yang menyenangkan. Misalnya si kecil sedang menyusun menara balok. Bersama-sama hitung jumlah balok yang di susun untuk membantunya belajar berpikir logis bahwa semakin banyak balok. Semakin tinggi menaranya kamu bisa meminta sikecil menghitung mainan berdasarkan warnanya seperti, biru, merah dan hijau. Tingkatkan kompleksitas warna secara perlahan.

5. Memasukkan Biskuit ke Toples

Memasukkan benda ke dalam toples juga bisa menjadi pilihan cara mengajari anak berhitung di rumah. Kamu bisa mencoba sediakan setumpuk biskuit di waktu makan snack si kecil. Pertama, minta si kecil memasukkan 5 buah biskuit kedalam toples. Jika sudah minta untuk tambahkan lima buah lagi. Kemudian hitung jumlah total biskuit yang ada di toples. Setelah itu, ambil 2 keping biskuit untuk di makan bersama. Kemudian hitung sisanya, melalui aktivitas ini, anak secara tidak langsung belajar proses penjumlahan dan pengurangan.

6. Games Berhitung

Anak usia 2 tahun ke atas sudah boleh mendapatkan screen time yang bersifat interaktif. Maksimal 1 jam sehari, namun harus tetap berdampingan dengan orang dewasa. Kamu bisa memanfaatkan screen time ini untuk mengajak anak bermain games edukatif yang menggunakan konsep berhitung. Pastikan mama dan Papa mengunduh games kategori ramah anak dan di setujui penggunaannya dalam belajar.

 

Sebab dan Akibat Jika Orangtua Tidak Memahami Perasaan Anak

Sebab dan Akibat Jika Orangtua Tidak Memahami Perasaan Anak – Sikap orangtua yang tidak mengerti perasaan anak seringkali menimbulkan konflik dalam keluarga. Padahal keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang dapat memengaruhi tumbuh kembangnya serta memberikan dampak yang terus berlanjut hingga ia dewasa. Kecenderungan orangtua untuk mengabaikan perasaan dan perkembangan emosi anak pada usia tumbuh kembangnya dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Mengutip NCIS kondisi ini disebut dengan childhool emotional neglect. Pengabaian perasaan dan meosional masa kecil terjadi ketika orangtua gagal untuk merespons anaknya dalam memenuhi kebutuhan emosionalnya.

Faktor-Faktor Orang Tua Tidak Bisa Memahami Perasaan Anak

1. Terlalu Sibuk

Alasan kenapa orangtua tidak mengerti perasaan anak. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Orang tua hanya berfokus pada kegiatannya tanpa terlibat langsung dalam pola asuh anak. Akibatnya orangtua tidak dapat memenuhi kebutuhan emosional anak. Hal inilah yang kerap memicu emosi dan konflik antara orangtua dan anak. Padahal salah satu cara agar mengerti perasaan anak adalah dengan menghabiskan waktu bersama anak. Seperti bermain, ngobrol atau hanya sekedar memeluk anak.

2. Kurang Komunikasi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penting untuk menghabiskan sedikit waktu bersama anak-anak. Dengan begitu komunikasi menjadi terbangun. Setelah komunikasi terbangun anak akan merasa nyaman dan terbuka pada orangtuanya untuk bercerita. Sehingga orangtua bisa mengerti perasaan anak. Sebaliknya jika komunikasi kurang maka orangtua menjadi sulit atau bahkan tidak memahami betul perasaan anak.

3. Kurangnya Memahami Diri Sendiri

Alasan lain kenapa orangtua tidak bisa mengerti perasan anak. Adalah karena kurangnya memahami diri sendiri, memahami diri sendiri menjadi langkah awal dan penting agar kamu bisa mengerti perasaan anak. Hal ini dikarenakan jika kamu belum bisa memahami diri sendiri. Maka akan sulit untuk memiliki kepekaan. Terlebih jika anak tengah berkeluh-kesah kamu akan bingun dan tidak tahu cara meresponsnya.

Baca Juga : Cara Mudah Mengajarkan Anak Membaca dengan Cepat dan Benar

4. Menerapkan Pola Asuh yang Turun-Menurun

Saat ini banyak orangtua yang menerapkan pola asuh turun-menurun. Alasan inilah yang membuat orangtua tidak mengerti perasaan anak. Karena hal tersebut belum tentu baik dan tiap anak masing-masing hidup pada zaman yang berbeda. Jadi pola asuh yang terdahulu, seperti penerapan pola asuh pengabaian. Belum tentu cocok digunakan pada saat ini. Alangkah baiknya orang tua menyesuaikan pola asuh anak terhadap karakternya dan mengikuti perkembangan zaman.

Akibat Orang tua Tidak Dapat Memahami Perasaan Anak

1. Terlalu Bersikap Keras pada Diri Sendiri

Kondisi ini ditandai dengan sikap anak yang mudah marah dan kecewa akan dirinya karena memiliki standar yang terlalu tinggi untuk dipenuhi dalam kehidupannya. Anak kamu juga cenderung merasa rendah diri dan mengkritik dirinya sendiri tanpa habis untuk dibandingkan dengan orang lain.

2. Kurang Rasa Kepemilikan

Anak yang mengalami pengabaian dari orangtuanya lebih mungkin merasa bahwa ia tidak klop dilingkaran sosial manapun. Baik itu lingkungan keluarga maupun teman. Ketika anak bersosialisasi pun cenderung merasa tidak nyaman serta berupaya menjauhkan diri dari orang terdekat.

3. Sering Merasa Tidak Puas

Tanda anak kurang perhatian orang tua salah satunya adalah cenderung merasa ada yang salah diri mereka sepanjang waktu. Akibatnya mereka juga kesulihan untuk mengenali apa yang sebenarnya ia butuhkan dan membuat perencanaan untuk hidupnya.

4. Kesulitan Memahami Perasaan Diri Sendiri

Memicu perasaan marah atau sedih tanpa mengetahui sebab yang jelas. Selain itu anak juga akan mengalami kesulitan untuk mengendalikan emosi sata mereka marah ataupun sedih.